Salah satu alasan yang menjadikan mobil bertransmisi matic (otomatis) laris manis dipasaran adalah efisien, praktis dan mudah digunakan apalagi di Ibu kota yang sudah dikenal memiliki lalu lintas kendaraan yang padat. Bapak/Ibu tak perlu harus secara terus-menerus memindahkan tuas kopling seperti halnya mobil bertransmisi manual. Meskipun kendaraan matic saat ini sudah seperti wabah, namun sebagian konsumen masih saja bingung mengenai perawatan atau maintenance mobil matic. Beberapa kendaraan Toyota juga menggunakan transmisi otomatis, seperti All New Avanza, All New Camry dan lain-lain.
Pengenalan Transmisi Matic
Seperti yang saya katakana diatas, bahwa kendaraan matic tak seperti manual yang mana pada tuas persnelingnya sendiri telah tersusun format sebagai berikut :
P (Park)
Tuas persneling pada posisi P berarti kendaraan dalam posisi parker, dengan demikian kendaraan tak bisa didorong baik kedepan ataupun ke belakang.
R (Reverse)
Ini dilakukan atau dipindahkan ketika Bapak/Ibu bermaksud untuk memundurkan kendaraan.
N (Neutral)
Pada posisi ini gear dalam keadaan netral yaitu hubungan mesin dengan roda dalam keadaan bebas.
D (Drive)
Ketika Bapak/Ibu akan mulai menjalankan kendaraan ke posisi depan tentunya maka tuas persneling dipindahkan ke posisi Drive.
2/S (Second)
Posisi untuk berjalan maju di medan pegunungan .
1/L (Low)
Posisi maju pada gear ke satu, hanya digunakan pada saat mengendarai pada medan yang sangat curam.
Tak hanya itu, karena masih ada opsi lainnya yaitu :
3 (Posisi untuk berjalan maju dan transmisi tidak akan berpindah pada posisi gir atas)
O/D (Over Drive) (Posisi supaya perpindahan gir pada transmisi terjadi pada putaran mesin yang lebih tinggi)
Perawatan Transmisi Matic
Sama halnya kendaraan lainnya, perawatan yang perlu dilakukan pada kendaraan Toyota adalah service berkala, seperti mengganti pelumas secara berkala seperti yang dianjurkan pada buku manual. Toyota sendiri merekomendasikan pergantian oli transmission dilakukan rata-rata setiap 40.000–100.000 kilometer, namun beberapa bengkel professional menganjurkan 20.000-25.000 Km.
Faktor penentu lainnya adalah faktor pengendaranya sendiri yaitu penggunaan posisi persneling hendaknya disesuaikan dengan kondisi jalan yang ada, misalkan ketika pada jalan tanjakan pindahkan tuas pada posisi L (Low) agar transmisi mengunci pada gigi 1.
Ketika pada kondisi jalan menurun, geser tuas ke perseneling D-3 atau overdrive (O/D) OFF, untuk memberikan efek engine brake saat melaju. Bila kecepatan di bawah 50 km/jam, dapat menggunakan posisi gigi 2. Bila jalan menurun curam, jangan ragu untuk menggunakan L atau 1.
Perhentian pada lampu merah, gunakan posisi N (Netral) dan pada saat hendak melaju pindahkan ke posisi D (Drive) namun sebaiknya pedal gas jangan diinjak terlalu kuat (full throttle) apalagi secara mendadak, karena transmisi akan bekerja tidak secara normal.
Bila perlu, saat jalan dalam kondisi padat merayap, sebaiknya tetap menggunakan posisi D, sambil mengontrol pedal rem sesuai kebutuhan. Hindari memindahkan tuas secara sering agar kemungkinan valve rusak akibat berakselerasi mendadak semakin kecil.
Kenali Kerusakan Transmisi Matic
Namanya juga mesin, tentu saja suatu saat perlu adanya pergantian atas kerusakan yang terjadi. Pendetksian dini kerusakan antara lain kebocoran gasket pada bagian transmisi. Jika Oli berkurang begitu cepat daripada keadaan normal maka sudah pasti terjadi kebocoran disana. Ketika memasuki jalanan yang banjir dan genangan air cukup tinggi sebaiknya lakukan pengurasan oli karena air yang masuk ke transmisi gearbox tentu saja dapat merusak gearbox oti sendiri.
